<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Tantangan Pengembangan Konten bagi Operator Baru</title>
	<atom:link href="http://blog.mobilemonday.co.id/2008/11/tantangan-pengembangan-konten-bagi-operator-baru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.mobilemonday.co.id/2008/11/tantangan-pengembangan-konten-bagi-operator-baru/</link>
	<description>Telecom, Internet, Media &#38; Creative Technology</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Jan 2010 07:36:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Marino</title>
		<link>http://blog.mobilemonday.co.id/2008/11/tantangan-pengembangan-konten-bagi-operator-baru/comment-page-1/#comment-53</link>
		<dc:creator>Marino</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 06:54:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.mobilemonday.co.id/?p=127#comment-53</guid>
		<description>Kalimat &quot;......Tanpa adanya dukungan CP, operator baru akan sulit menghadapi persaingan dalam layanan nilai tambah...&quot; menarik untuk dibahas. 

Menurut pendapat saya, CP juga melihat jumlah subscriber sebagai barometer dalam penyediaan konten. Para CP tentu lebih tertarik untuk menyediakan konten kepada operator yang memiliki jumlah pelanggan lebih besar, karena peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih besar. 

Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah sistem bagi hasil yang berbeda dari kompetitor, yang lebih menguntungkan kepada penyedia content. Kita bisa ambil contoh kasus di NTT DoComo di Jepang dan China Mobile di Cina. Di kedua operator tersebut, persentase bagi hasil adalah 15% untuk operator dan 85% untuk penyedia konten. Alhasil, content provider bersaing untuk menyediakan content yang menarik bagi operator-operator tersebut di atas. Banyak penyedia layanan content internet beralih menjadi penyedia layanan content mobile. Operator memperoleh penghasilan dari fee yang dikenakan saat mengunduh content.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat &#8220;&#8230;&#8230;Tanpa adanya dukungan CP, operator baru akan sulit menghadapi persaingan dalam layanan nilai tambah&#8230;&#8221; menarik untuk dibahas. </p>
<p>Menurut pendapat saya, CP juga melihat jumlah subscriber sebagai barometer dalam penyediaan konten. Para CP tentu lebih tertarik untuk menyediakan konten kepada operator yang memiliki jumlah pelanggan lebih besar, karena peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih besar. </p>
<p>Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah sistem bagi hasil yang berbeda dari kompetitor, yang lebih menguntungkan kepada penyedia content. Kita bisa ambil contoh kasus di NTT DoComo di Jepang dan China Mobile di Cina. Di kedua operator tersebut, persentase bagi hasil adalah 15% untuk operator dan 85% untuk penyedia konten. Alhasil, content provider bersaing untuk menyediakan content yang menarik bagi operator-operator tersebut di atas. Banyak penyedia layanan content internet beralih menjadi penyedia layanan content mobile. Operator memperoleh penghasilan dari fee yang dikenakan saat mengunduh content.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
