25
Nov

Widi Sagita Abadi – Member of Mobile Monday Indonesia
Published in Selular, October 2008

(English version in progress… :-) )

Dalam perspektif persaingan di industri selular saat ini, tampak jelas para operator baru mau tak mau harus terjun ke pasar tarif voice murah. Seiring waktu berjalan, persaingan tak terbatas pada segmen penyediaan tarif voice murah, untuk bisa eksis dalam kompetisi para operator harus menyiapkan strategi pengembangan konten yang menarik. Nah, bagaimana posisi pengembangan konten bagi keunggulan bersaing di segmen operator baru?

Dimensi keunggulan bersaing operator telekomunikasi bisa dilihat dari tiga hal. Pertama adalah Network dan Infrastruktur, kedua adalah Kualitas Layanan (Customer Intimacy), dan yang ketiga, Diferensiasi Service dan Konten. Sebagai operator baru, bisa jadi susah untuk bersaing dalam hal network infrastruktur dan juga kualitas layanan. Sehingga sangat menarik untuk bisa menonjolkan keunggulan bersaing dari sisi value added services (VAS) terutama dalam hal pengembangan mobile content. Apalagi jika diamati, layanan suara dan SMS sepertinya makin turun dari hari ke hari, tetapi bisa dibilang jarang terjadi penurunan tarif untuk layanan nilai tambah.

Namun sebagai operator baru, tentu bukan hal yang mudah bagi manajemen untuk mengembangkan konten dan delivery technology-nya mengingat umumnya pemegang saham lebih tertarik untuk mengejar jumlah subscriber.

Pada tulisan ini, secara garis besar, tantangan pengembangan konten terbagi dalam dua faktor utama, yaitu faktor eksternal dan faktor internal yang dihadapi oleh operator selular. Tantangan industri dan gerakan kompetitor, terutama pemain incumbent merupakan faktor eksternal yang utama. Industri konten bergerak (mobile content) bisa dikatakan saat ini mengalami publikasi negatif terutama dalam pemberitaan SMS premium. Banyak keluhan yang dilayangkan konsumen ke surat pembaca seputar susahnya untuk berhenti berlangganan dari layanan sampai isu perampokan pulsa. Tantangan ini masih ditambah dengan inovasi kompetitor yang sudah didukung dengan teknologi yang makin kaya seperti video portal, live streaming, ringback tone, dan on-device portal. Umumnya operator baru masih terjebak dengan pengembangan konten yang bersifat enhanced voice dan enhanced messaging.

Tantangan eksternal lain adalah trend dari Web 2.0 yang bisa dilihat sebagai tantangan business model dan tantangan distribusi konten yang baru. Konten bergerak dalam hal ini tetap merupakan perpanjangan konten digital dimana media penggeraknya adalah internet. Fenomena yang ada di internet sekarang seperti Youtube, Facebook, MySpace, Friendster, Flickr, dan blogging menggambarkan terjadinya evolusi penciptaan dan pendistribusian konten. Generasi C yang didominasi oleh digital native lebih menyukai user-generated content (UGC) yang bisa mendukung sifat narsisme mereka dan dikemas dengan pola distribusi yang mesh melalui social networking site (SNS). Sehingga bisa dikatakan trend ini merupakan tantangan, namun juga opportunity yang bisa dieksplorasi lebih oleh operator baru.

Kesiapan teknologi khususnya delivery platform untuk mobile content merupakan tantangan internal yang harus dihadapi oleh pelaku VAS dari operator baru. Ditengah beragamnya enabler untuk pendistribusian konten, operator baru perlu lebih selektif dalam memilih platform technology yang bisa menjadi killer application.

Isu komersialisasi layanan juga merupakan faktor internal yang menjadi tantangan operator baru. Yang termasuk dalam tantangan ini adalah adanya teknologi billing-charging yang bisa mendukung variasi transaksi dan pilihan tarif yang bisa di perceive sebagai simple dan value for money. Selain itu juga pola bagi hasil (revenue share) antara operator dengan content partner. Semakin menarik pola bagi hasil, content partner akan lebih leluasa dalam memberikan layanan konten. Operator baru perlu melakukan analisa perbandingan layanan konten dengan kategorisasi yang dilakukan oleh kompetitor.

Hal lain yang menjadi tantangan secara internal adalah komitmen manajemen untuk mendukung pengembangan konten sebagai nilai tambah. Isu strategik yang dihadapi oleh operator baru pada umumnya adalah subscriber growth (jumlah pelanggan) dan market coverage (jangkauan layanan) sehingga dukungan untuk pengembangan konten sebagai layanan nilai tambah, baru merupakan prioritas yang ke sekian dibanding isu stratejik lainnya. Pembuatan business case yang profitable dan sellable ke market adalah kunci untuk mengatasi tantangan ini.

Pada akhirnya berpulang kembali ke operator baru, apakah diferensiasi VAS melalui pengembangan mobile content bisa menjadi kunci sukses untuk menghadapi kompetitor yang ada. Namun diatas semua faktor yang ada diatas, dukungan dari Content Provider kepada operator baru merupakan hal yang crucial. Tanpa adanya dukungan CP, operator baru akan sulit menghadapi persaingan dalam layanan nilai tambah.

Category : Article & Insight

One Response to “Tantangan Pengembangan Konten bagi Operator Baru”


Marino December 9, 2008

Kalimat “……Tanpa adanya dukungan CP, operator baru akan sulit menghadapi persaingan dalam layanan nilai tambah…” menarik untuk dibahas.

Menurut pendapat saya, CP juga melihat jumlah subscriber sebagai barometer dalam penyediaan konten. Para CP tentu lebih tertarik untuk menyediakan konten kepada operator yang memiliki jumlah pelanggan lebih besar, karena peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih besar.

Salah satu cara yang bisa diterapkan adalah sistem bagi hasil yang berbeda dari kompetitor, yang lebih menguntungkan kepada penyedia content. Kita bisa ambil contoh kasus di NTT DoComo di Jepang dan China Mobile di Cina. Di kedua operator tersebut, persentase bagi hasil adalah 15% untuk operator dan 85% untuk penyedia konten. Alhasil, content provider bersaing untuk menyediakan content yang menarik bagi operator-operator tersebut di atas. Banyak penyedia layanan content internet beralih menjadi penyedia layanan content mobile. Operator memperoleh penghasilan dari fee yang dikenakan saat mengunduh content.